Sejenak kita mengingat dan membaca kembali sejarahperjuangan HMI. Secara historis HMI tidak didirikan sekadar tempat berhimpunnya mahasiswa.
HMI lahir dari kegelisahan terhadap kondisi umat dan bangsa. Karena itu keberadaan HMI seharusnya selalu diukur dari sejauh mana ia mampu menjaga orientasi perjuangannya bukan seberapa banyak jabatan yang diperebutkan.
Kittah sejarah perjuangan semestinya menjadi kompas ideologis setiap kader. Ia bukan sekadar dokumen yang dibaca ketika mengikuti proses perkaderan kemudian disimpan sebagai bagian dari arsip organisasi.
Kittah harus hadir dalam cara kader berpikir dan bersikap serta menentukan keberpihakannya.
Namun realita yang terlihat hari ini menunjukkan adanya jarak antara nilai perjuangan yang diajarkan dengan praktik organisasi yang dijalankan.
Sebagian kader mulai sibuk membangun posisi daripada membangun gagasan, lebih serius memenangkan kontestasi daripada memenangkan kepentingan umat dan bangsa.
Kritik paling serius tentu patut diarahkan kepada PengurusBesar HMI. Sebagai struktur tertinggi, PB HMI memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa HMI tidak
kehilangan orientasi perjuangannya. PB HMI tidak boleh berhenti pada fungsi administratif saja. Organisasi sebesarHMI membutuhkan kepemimpinan yang mampu membaca persoalan secara kritis.
Persoalan yang lebih besar adalah ketika jabatan organisasi berubah menjadi tujuan perjuangan.
HMI kemudian berisiko menjadi ruang reproduksi kepentingan pribadi dan kepentingan oknum. Bukan ruang pembentukan manusia yang memiliki keberanian intelektual dan keteguhan moral yang tercipta HMI kehilangan fungsi utamanya.
Kritik tersebut juga harus diarahkan kepada kader secara keseluruhan. Tidak adil apabila seluruh kegagalan organisasi hanya dibebankan kepada struktur kepengurusan. Kader adalah wajah sesungguhnya dari HMI.
Jika kader tidak lagi membaca persoalan masyarakat, ketika ada kepentingan politik internal.
Itu adalah tanda bahwa kultur perkaderan sedang mengalami kemunduran. Kaderisasi yang seharusnya melahirkan insan akademis, pencipta, dan pengabdi justru berpotensi berubah menjadi mekanisme reproduksi kepentingan.
Fenomena semacam ini kentara terasa dalam dinamika HMI Cabang Padang. Kritik perlu diarahkan secara terbuka kepada sebagian kader yang baru lantang bersuara ketika mereka kalah dalam kontestasi pergantian Ketua Umum Cabang saja.
Suara kritik tentu penting,bahkan merupakan bagian dari tradisi intelektual HMI.
Namun kritik menjadi kehilangan bobot moral jika setelah kepentingan kelompok atau kandidat tertentu tidak terpenuhi.
Organisasi tidak seharusnya menjadi tempat seseorang belajar berbicara hanya ketika kalah dalam perebutan posisi sementara ketika memperoleh keuntungan dari struktur yang sama ia memilih diam terhadapberbagai persoalan yang sebelumnya dianggap penting.
HMI Cabang Padang seharusnya bertanya lebih jauh: berapabanyak persoalan masyarakat yang berhasil diadvokasi? Berapa banyak gagasan akademik yang lahir dari ruang-ruang diskusi kader? Seberapa kuat perkaderan berjalan secarasubstansial? Dan sejauh mana keberadaan HMI dirasakan oleh masyarakat.
Di sinilah relevansi kritik terhadap budaya kontestasi yang terlalu dominan. Kompetisi dalam organisasi pada dasarnya bukan sesuatu yang salah.
Pergantian kepemimpinan adalah mekanisme yang wajar dalam organisasi demokratis. Yang menjadi persoalan adalah ketika kompetisi menghabiskan hampir seluruh energi organisasi sementara agenda perkaderan dan pengabdian justru terpinggirkan.
HMI juga perlu kembali memahami makna independensi secara substantif.
Independensi bukan berarti organisasi harus menjauh dari seluruh realitaspolitik. Sebaliknya, HMI harus mampu hadir dalam ruang politik dengan tetap menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan maupun kepentingan kelompok.
Kritik terhadap HMI hari ini seharusnya tidak dipahami sebagai upaya meruntuhkan organisasi, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar HMI tidak kehilangan dirinya sendiri.
Organisasi sebesar HMI tidak membutuhkan kader yanghanya pandai menghafal sejarah perjuangan, tetapi kader yang mampu meneruskan substansi perjuangan tersebut.
Ketika membaca sejarah perjuangan HMI kembali menjadi pedoman ber HMI bukan sekadar materi perkaderan, maka HMI bukan hanya akan kembali menemukan arah tetapi juga kembali menemukan alasan mengapa ia harus tetap ada ditengah umat dan bangsa.
Penulis : Emirul Ikhsan (Kader HMI cabang Padang)
Editor : LN







