Padang, Faktacepat.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi yang dikenal sebagai wadah pembentukan karakter mahasiswa. Kutipan yang disampaikan oleh Jenderal Soedirman, HMI tidak hanya sekedar Himpunan mahasiswa Islam, tapi juga sebagai Harapan Masyarakat Indonesia.
Namun kondisi yang terjadi saat ini HMI Cabang Padang justru memperlihatkan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Dinamika berkepanjangan pasca Konferensi Cabang ke-41 melahirkan dualisme kepemimpinan yang menyeret organisasi ke dalam situasi stagnan tanpa kejelasan arah.
Dualisme kepemimpinan bukan sekadar persoalan administratif atau sengketa hasil konferensi. Lebih dari itu, dualisme merupakan krisis legitimasi yang berpotensi merusak kepercayaan kader terhadap organisasi. Dalam konteks organisasi kader, ketidakjelasan kepemimpinan akan berdampak langsung pada melemahnya proses kaderisasi danmenurunnya kualitas konsolidasi.
Yang lebih memprihatinkan adalah lambannya penyelesaian konflik tersebut. Waktu yang terus berjalan seolah tidak menghasilkan kemajuan untuk keputusan yang final. Situasi ini menunjukkan adanya kegagalan kolektif dalam mengelola konflik organisasi secara dewasa dan berlandaskan konstitusi HMI.
Ironisnya, kondisi ini tidak diiringi dengan munculnya kritik yang kuat dari komisariatkomisariat selingkup HMI Cabang Padang. Komisariat sebagai basis kaderisasi utama dan jantung kehidupan organisasi seolah memilih menjadi penonton. Padahal komisariat merupakan ruang lahirnya kader-kader kritis yang berani menyampaikan pandangan demi menyelamatkan HMI Cabang dari kemunduran.
Fenomena diamnya komisariat juga dapat dibaca sebagai gejala menurunnya kesadaran kolektif kader terhadap tanggung jawab organisasi. Banyak kader tampak lebih sibuk dengan aktivitas internal masing-masing dibandingkan memperhatikan masa depan cabang secara keseluruhan.
Akibatnya, persoalan yang sebenarnya bersifat struktural dan menyangkut kepentingan bersama tidak lagi menjadi perhatian utama. Budaya kritis yang dahulu menjadi ciri khas kader HMI perlahan hilang.
Lebih jauh lagi, kondisi ini berpotensi menciptakan krisis kaderisasi jangka panjang. Kaderkader baru yang masuk ke dalam organisasi akan melihat HMI bukan sebagai laboratorium kepemimpinan dan intelektual, melainkan arena konflik yang tidak pernah selesai.
Sudah saatnya seluruh elemen HMI Cabang Padang menyadari bahwa konflik yang terlalu lama dibiarkan akan menghasilkan kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh oleh pihak mana pun.
Untuk keluar dari situasi ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membentuk forum rekonsiliasi organisasi yang melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan secara konstitusional. Forum tersebut harus menghasilkan keputusan yang final, mengikat, dan diterima oleh semua pihak. Kedua, komisariat-komisariat harus mengambil peran aktif sebagai kekuatan moral dengan menyuarakan kritik dan tuntutan penyelesaian secara terbuka.
Pada akhirnya, masa depan HMI Cabang Padang tidak ditentukan oleh siapa yang berhasil mempertahankan klaim kepemimpinan, melainkan oleh kemampuan seluruh kader untuk menyelamatkan organisasi dari keterpurukan. Kepeloporan, Kemandirian untuk Kemanusiaan. Yakin Usaha Sampai.
Penulis : Emirul Ikhsan(Sekretaris Umum HMI KOMSYA UIN IB Padang)







