OPINI, Faktacepat.id – Di era digital saat ini, anak-anak tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Berbagai informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui internet, media sosial, maupun aplikasi digital. Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Namun, di sisi lain, muncul tantangan baru, yaitu semakin menurunnya kebiasaan membaca buku pada anak. Banyak anak lebih memilih menghabiskan waktu bermain gim atau menonton video dibandingkan membaca buku. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama karena membaca merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Membaca bukan sekadar mengenal huruf dan merangkai kata menjadi kalimat. Membaca merupakan proses memahami informasi, memperluas wawasan, mengembangkan kemampuan berpikir, serta membentuk karakter seseorang. Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus ditanamkan sejak usia dini. Masa kanak-kanak merupakan periode emas perkembangan otak sehingga segala kebiasaan positif yang diperkenalkan sejak dini akan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan anak di masa depan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang terbiasa membaca memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dibandingkan anak yang jarang membaca. Mereka memiliki kosakata yang lebih banyak, mampu memahami pelajaran dengan lebih mudah, serta lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Selain itu, membaca juga melatih konsentrasi, daya ingat, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas. Semua kemampuan tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah.
Manfaat membaca tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik. Buku juga menjadi media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Melalui cerita, dongeng, maupun kisah inspiratif, anak belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kepedulian, serta rasa hormat kepada orang lain. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat yang beragam.
Sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan. Kehadiran gawai sering kali membuat anak lebih tertarik pada hiburan instan daripada membaca buku. Padahal, penggunaan gawai yang berlebihan dapat mengurangi waktu belajar, menurunkan konsentrasi, bahkan menghambat interaksi sosial anak apabila tidak diawasi dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pembiasaan membaca agar anak memperoleh manfaat dari keduanya.
Peran keluarga menjadi faktor utama dalam menumbuhkan budaya membaca. Orang tua merupakan guru pertama bagi anak. Kebiasaan sederhana seperti membacakan dongeng sebelum tidur, menyediakan buku cerita yang sesuai dengan usia anak, atau meluangkan waktu membaca bersama selama beberapa menit setiap hari dapat menumbuhkan kecintaan terhadap buku. Anak cenderung meniru kebiasaan orang tuanya. Ketika orang tua gemar membaca, anak pun akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun budaya literasi. Guru tidak hanya mengajarkan cara membaca, tetapi juga perlu menciptakan suasana belajar yang membuat membaca menjadi kegiatan yang menyenangkan. Program literasi sekolah, pojok baca di kelas, kegiatan membaca selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai, lomba mendongeng, maupun resensi buku merupakan beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan minat baca siswa. Pembelajaran yang dikemas secara menarik akan membuat anak menyadari bahwa membaca bukanlah kewajiban, melainkan kebutuhan.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung budaya membaca. Kehadiran perpustakaan umum, taman bacaan masyarakat, serta berbagai kegiatan literasi akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memperoleh bahan bacaan yang berkualitas. Dukungan pemerintah dalam menyediakan akses terhadap buku yang terjangkau juga menjadi langkah penting untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia.
Di era digital, teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebiasaan membaca. Buku elektronik, perpustakaan digital, dan berbagai aplikasi literasi memberikan kemudahan bagi anak untuk mengakses bacaan kapan saja dan di mana saja. Namun, pendampingan dari orang tua dan guru tetap diperlukan agar teknologi dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan hanya sebagai media hiburan. Dengan demikian, perkembangan teknologi justru dapat menjadi peluang untuk memperkuat budaya membaca.
Sebagai calon guru sekolah dasar, saya meyakini bahwa menanamkan kebiasaan membaca sejak dini merupakan salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan yang mampu menginspirasi peserta didik agar gemar membaca. Sekolah yang berhasil membangun budaya literasi akan melahirkan peserta didik yang lebih aktif, kreatif, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Pada akhirnya, membiasakan membaca sejak dini merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam waktu singkat, tetapi akan memberikan manfaat besar di masa depan. Anak yang tumbuh dengan kebiasaan membaca akan memiliki wawasan yang luas, karakter yang kuat, serta kemampuan belajar sepanjang hayat. Oleh sebab itu, keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah perlu bekerja sama menjadikan budaya membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masa depan bangsa berada di tangan generasi muda. Generasi yang berkualitas tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dimulai sejak usia dini. Salah satu kebiasaan yang paling sederhana, tetapi memiliki dampak luar biasa, adalah membaca. Karena itu, mari kita mulai hari ini dengan membuka satu buku, membaca satu halaman, dan menanamkan kecintaan terhadap membaca kepada setiap anak. Dari kebiasaan kecil inilah akan lahir generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. (22/7)
Penulis: Sartini
Program Studi: PGSD RPL, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sari Mutiara Indonesia
Editor: INR







