Padang, Faktacepat.id – Sumatera Barat-Di tengah ketidakpastian ekonomi global, konflik geopolitik internasional, dan derasnya arus informasi di media sosial, Founder Rumah Aktivis Sejahtera, Rifki Fernanda Sikumbang, mengajak mahasiswa dan pemuda untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai narasi yang beredar di ruang digital.
Menurut Rifki, kondisi dunia saat ini sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Konflik di Timur Tengah, gejolak harga energi dunia, serta perang informasi di media sosial berpotensi memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia. Kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax yang terjadi pada Juni 2026 juga tidak dapat dilepaskan dari dinamika harga energi global. Namun demikian, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih dipertahankan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Kawan-kawan mahasiswa, jangan latah. Negara sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Jangan mudah terpancing oleh konten-konten provokatif yang sengaja memancing emosi dan kemarahan publik,” ujar Rifki.
Ia menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengkaji persoalan secara lebih mendalam sebelum mengambil sikap.
“Jangan turun karena orang lain turun. Jangan ribut hanya karena isu viral lewat di beranda media sosial. Amati, baca, pelajari, dan pahami persoalannya terlebih dahulu.”
Rifki mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan berbagai kelompok kepentingan, baik politik, ekonomi maupun ideologis, sering memanfaatkan situasi krisis untuk memengaruhi opini publik. Karena itu, mahasiswa harus memperkuat tradisi intelektual kampus dengan diskusi berbasis data, bukan sekadar mengikuti arus emosi massa.
Menurutnya, kenaikan Pertamax perlu dilihat secara utuh. Yang mengalami penyesuaian adalah BBM nonsubsidi, sementara Pertalite dan Solar bersubsidi masih dipertahankan pemerintah.
“Kalau mengaku generasi intelektual, jangan malas berpikir. Mahasiswa harus menjadi kelompok yang paling kuat melakukan verifikasi informasi, bukan justru menjadi korban propaganda digital.”
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa demonstrasi merupakan hak konstitusional warga negara. Namun aksi tersebut harus didasarkan pada analisis yang matang dan tujuan yang jelas.
“Jangan jadikan demonstrasi sebagai euforia atau ajang aktualisasi diri semata. Kritik tetap penting dalam demokrasi, tetapi kritik harus lahir dari pemahaman yang kuat terhadap persoalan.”
Wasekjend DPP KNPI itu juga mengajak mahasiswa, pemuda, buruh, petani, dan masyarakat luas untuk memperkuat ketahanan sosial di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Ketika sistem sedang menghadapi tekanan, gangguan dari luar akan lebih mudah masuk. Karena itu kita harus menjaga persatuan, meningkatkan literasi informasi, dan memperkuat daya tahan bangsa.”
Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap mengedepankan semangat kebangsaan.
“Stay ahead. Tetap berpikir kritis. Jangan mudah terprovokasi. Jaga persatuan, jaga Indonesia.”
#JagaWaspadaBelaNegara
#HiduplahIndonesiaRaya
#PemudaSumbar
#MahasiswaBerpikirKritis
#LiterasiDigital
#SumbarMaju







