JAKARTA, Faktacepat.id – Industri media saat ini menghadapi tantangan besar akibat disrupsi digital serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Dampaknya terasa pada menurunnya pendapatan perusahaan media hingga berkurangnya kepercayaan publik terhadap informasi.
Meski demikian, para pelaku industri menilai jurnalisme tetap memiliki peran penting sebagai sumber informasi yang kredibel dan dapat dipercaya masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan? yang digelar dalam Pesta Media AJI Jakarta 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Diskusi itu menghadirkan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika, Anggota Dewan Pers Abdul Manan, serta Pemimpin Redaksi Konde.co Luviana Ariyanti.
Luviana menegaskan, jurnalisme sangat dibutuhkan terutama pada masa krisis. Menurutnya, produk jurnalistik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghasilkan pengetahuan melalui proses pencarian fakta, wawancara, dan verifikasi langsung di lapangan.
Ia menyebut jurnalisme sebagai “cahaya di tengah kegelapan” karena mampu menghadirkan kejelasan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Selain itu, Luviana menilai media memiliki tanggung jawab memberi ruang bagi kelompok-kelompok marginal yang kerap tidak terwakili dalam arus informasi utama. Ia menambahkan, kerja jurnalistik menuntut empati serta cara berpikir yang berorientasi pada kepentingan publik, berbeda dengan ekspresi personal yang dominan di media sosial.
Sementara itu, Wahyu Dhyatmika menyoroti tekanan baru yang datang dari perkembangan AI. Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 trafik media mengalami penurunan tajam, bahkan hampir setengah dari total page views hilang dalam setahun terakhir.
Di sisi lain, perusahaan media juga menghadapi lonjakan aktivitas bot atau crawler AI yang mengambil konten dan meningkatkan biaya operasional. Situasi ini menimbulkan tekanan ganda: pendapatan iklan menurun, sementara beban biaya justru meningkat.
Sebagai solusi, Wahyu mendorong media bertransformasi dari model bisnis berbasis iklan menuju model berbasis pembaca. Menurutnya, perusahaan media perlu membangun hubungan langsung dengan audiens agar lebih memahami kebutuhan informasi sekaligus menjaga keberlanjutan usaha di era digital.
Anggota Dewan Pers Abdul Manan menambahkan, persoalan utama industri media saat ini bukan terletak pada jurnalisme, melainkan pada model bisnis yang digunakan. Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan AI, masyarakat justru semakin membutuhkan informasi yang telah diverifikasi.
Wahyu menegaskan, jurnalisme akan tetap relevan karena mampu menghadirkan informasi yang memiliki konteks, autentisitas, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Penulis : YMS







