PELALAWAN, FAKTACEPAT.ID — Memasuki usia ke-27 tahun pada 2026, Kabupaten Pelalawan perlu menjadikan hari jadi sebagai momentum refleksi dan evaluasi pembangunan, bukan sekadar seremoni tahunan. Sejumlah persoalan mendasar masih membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemiskinan, hingga pemerataan pembangunan.
Tauhid Ma’rifatullah,S.IP,M.IP aktivis muda ini menyoroti Persoalan karhutla yang terus berulang. Pada 27 Agustus 2026, Kabupaten Pelalawan tercatat menyumbang 72 titik panas (hotspot), tertinggi di antara kabupaten/kota di Riau berdasarkan laporan pemantauan BMKG pada hari tersebut. Sementara itu, data kumulatif hingga 3 September 2026 mencatat luas lahan terbakar di Pelalawan mencapai 6.640,99 hektare.
Kondisi ini menjadi alarm serius bahwa pencegahan karhutla harus diperkuat. Pemerintah perlu mengevaluasi efektivitas pengawasan kawasan rawan kebakaran, kesiapan penanganan bencana, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan. Perlindungan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan dari dampak kabut asap, juga harus menjadi prioritas.
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan masyarakat tidak boleh luput dari perhatian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan persentase penduduk miskin di Pelalawan mencapai 7,24 persen, tertinggi ketiga di antara 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa besarnya potensi sumber daya alam Pelalawan harus diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan perlu diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, pemerataan infrastruktur, serta peningkatan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Pada usia ke-27 tahun, Pelalawan membutuhkan evaluasi yang jujur dan langkah nyata untuk menjawab persoalan rakyat. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap kebijakan dan anggaran benar-benar memberikan dampak yang terukur bagi masyarakat.
Hari jadi bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi juga tentang keberanian memperbaiki kekurangan. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari kemeriahan perayaan, melainkan dari lingkungan yang terlindungi, peluang kerja terbuka, kemiskinan yang berkurang, dan kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat.
Penulis : YKZ
Editor : INR







