PEKANBARU, Faktacepat.id – Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menilai perubahan arah kebijakan dari restorasi menjadi pengelolaan gambut dan mangrove secara menyeluruh dari hulu hingga hilir merupakan langkah strategis menjaga keberlanjutan lingkungan.
Penilaian tersebut disampaikannya saat menghadiri International Conference on Peatland Research & Innovation 2026 di Integrated Classroom Universitas Riau, Pekanbaru, pada Sabtu (31/10/2026).

Transformasi dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) menjadi Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) dinilai sebagai keputusan kebijakan yang sangat tepat. Perubahan nomenklatur tersebut mencerminkan kepedulian nyata terhadap kelangsungan masa depan lingkungan hidup.
”Dari Badan Restorasi ke Badan Pengelola, dari yang kemarin merestorasi, hari ini sudah didefinisikan mengelola dari hulu ke hilir, dari asal sampai ke hasil dan kemudian keberlanjutannya. Itu sebuah pilihan kata yang menurut kami sangat cerdas dan sangat peduli untuk kelangsungan masa depan,” ujar Syahrial Abdi dalam konferensi tersebut.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengelolaan ekosistem gambut harus diarahkan pada penataan bentang hidrologis secara terpadu. Pendekatan ini penting karena perbaikan tata air pada satu titik kawasan akan berdampak langsung terhadap kondisi wilayah lain dalam satu kesatuan hidrologis gambut.
Pemerintah Provinsi Riau berharap forum ilmiah internasional ini mampu melahirkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif. Rekomendasi tersebut nantinya dapat dikolaborasikan bersama berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat tata kelola gambut dan mangrove di daerah.
Galeri Foto Konferensi Internasional Peatland Research & Innovation 2026
Foto 1: Suasana International Conference on Peatland Research & Innovation 2026 di Universitas Riau

Foto 2: Sekdaprov Riau Syahrial Abdi saat menyampaikan pandangan dalam konferensi

Foto 3: Para narasumber dan peserta mengikuti jalannya sesi diskusi ilmiah

Foto 4: Paparan materi mengenai transformasi pengelolaan gambut dan mangrove

Foto 5: Sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber konferensi

Foto 6: Penataan bentang hidrologis gambut yang menjadi fokus pembahasan

Foto 7: Diskusi kolaborasi bersama pemangku kepentingan lingkungan hidup 
Foto 8: Foto bersama Sekdaprov Riau bersama akademisi dan panitia acara

Penulis: YKZ
Editor: INR




















