Menelisik Sejarah Lamang: Kuliner Ketan Bambu dan Tradisi Malamang Minangkabau

Padang Pariaman, faktacepat.id — Lamang, atau yang dikenal luas sebagai lemang di berbagai wilayah Nusantara, merupakan hidangan tradisional berbahan dasar beras ketan dan santan yang dimasak di dalam seruas bambu. Namun, di tanah Minangkabau, Sumatra Barat, lamang bukan sekadar sajian kuliner untuk mengganjal lapar. Hidangan ini memegang peranan penting sebagai simbol sosial, spiritual, serta bagian tak terpisahkan dari ritual adat dan sejarah penyebaran Islam.

​1. Asal-Usul dan Syiar Islam Syekh Burhanuddin

​Sejarah penganan lamang di ranah Minang berkaitan erat dengan figur Syekh Burhanuddin (1611–1691 M), seorang ulama tarekat Shatariyah yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Padang Pariaman.

​Berdasarkan penelusuran sejarah lokal dan etnografi, saat Syekh Burhanuddin berdakwah dari satu tempat ke tempat lain, masyarakat setempat sering menyajikan hidangan sebagai bentuk penghormatan. Akan tetapi, timbul keraguan terkait kehalalan tata cara penyembelihan hewan maupun kebersihan wadah masak yang digunakan oleh warga yang saat itu belum sepenuhnya memeluk Islam.

​Untuk menghindari keraguan (syubhat) dan menjaga kehalalan makanan, Syekh Burhanuddin mengajarkan masyarakat cara memasak beras ketan (puluik) yang dicampur santan kelapa di dalam seruas bambu muda (talang) yang dialasi daun pisang. Bambu yang dibakar di atas api memastikan makanan di dalamnya bersih, higienis, halal, dan terisolasi dari kotoran luar. Sejak saat itu, tradisi pembuatan lamang terus diwariskan sebagai bagian dari syiar Islam di Minangkabau.

​2. Tradisi Malamang dan Nilai Kekerabatan

​Proses pembuatan lamang melahirkan sebuah tradisi komunal yang dikenal dengan sebutan Malamang. Tradisi ini dilakukan secara gotong royong menjelang hari-hari besar keagamaan—seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, penyambutan bulan suci Ramadan, dan Idulfitri—serta dalam upacara adat seperti pernikahan (baralek) dan khitanan.

​Praktik malamang melibatkan pembagian peran yang jelas dan terstruktur:

​Peran Laki-laki: Bertugas mengumpulkan kayu bakar, mencari ruas bambu (talang) ke hutan atau kebun, serta mengawasi pembakaran bambu.

​Peran Perempuan: Menyiapkan beras ketan, memeras santan kelapa, meracik bumbu, dan memasukkan adonan berbalut daun pisang ke dalam bambu.

​Membakar lamang memakan waktu antara 4 hingga 6 jam. Bambu harus diputar secara berkala agar matang merata tanpa membakar habis bagian luarnya. Proses panjang ini mengandung filosofi kesabaran, kerja sama, ketelitian, serta mempererat tali silaturahmi antaranggota kaum maupun nagari.

​3. Jenis-Jenis Lamang dan Penyajiannya

​Masyarakat Minangkabau mengenal beberapa varian lamang, di antaranya:

​Lamang Puluik: Varian yang paling umum, terbuat dari beras ketan putih dan santan.

​Lamang Pisang: Beras ketan yang dicampur dengan potongan atau adonan pisang sebelum dimasukkan ke dalam bambu.

​Lamang Ubi: Berbahan dasar ubi kayu (singkong) yang dicincang/diparut dan dicampur gula merah (saka).

​Lamang Kuning: Menggunakan adonan tepung beras yang diberi warna kuning alami dari kunyit.

​Dari seluruh varian tersebut, penyajian yang paling populer adalah Lamang Tapai. Potongan lamang yang gurih disajikan bersama tapai—olahan beras ketan hitam yang difermentasi dengan ragi—sehingga menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit asam yang khas.

​Daftar Referensi:

​Amelia, Amanda. (2023, 25 Oktober). Mengenal Tradisi Malamang dan 4 Jenis Lemang di Minangkabau. Detik sumut.

​Gardjito, Murdijati., Santoso, Umar., & Harmayani, Eni. (2023). Ragam Kudapan Sumatra, Bali, NTB, NTT, dan Papua. Yogyakarta: Penerbit Andi.

​Refisrul. (2017). Lamang dan Tradisi Malamang pada Masyarakat Minangkabau. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya (Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatra Barat), Vol. 3, No. 2, hlm. 772–796.

 

Penulis : THD

Editor : INR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *