Riau, faktacepat.id – Memiliki rambut sehat dan berkilau adalah impian setiap orang. Namun, di tengah iklim tropis Indonesia yang panas, menjaga kesehatan mahkota kepala ternyata bukan perkara mudah. Paparan suhu tinggi dan kelembapan yang meningkat kini disebut-sebut sebagai pemicu utama munculnya ketombe yang jika dibiarkan dapat berujung pada kebotakan permanen.
Kesehatan rambut secara medis didefinisikan sebagai kondisi kulit kepala yang bebas dari keluhan seperti ketombe, rontok, kusam, maupun berminyak. Sayangnya, udara panas di Indonesia memicu produksi keringat berlebih, membuat rambut mudah lepek dan kotor.
Jamur Pityrosporum Ovale: Musuh di Balik Ketombe
Ketombe atau dandruff sebenarnya adalah kelainan kulit kepala ringan tanpa peradangan. Masalah ini dipicu oleh pertumbuhan berlebih jamur Pityrosporum ovale (flora normal pada kulit manusia). Namun, faktor lingkungan seperti suhu panas, kelembapan, hingga stres dapat menyebabkan jamur ini berkembang biak tak terkendali.
”Ketombe ditandai dengan pengelupasan skuama halus maupun kasar. Selain faktor jamur, peningkatan sebum pada kelenjar sebasea dan kerentanan individu juga berperan besar,” tulis laporan kesehatan yang dihimpun dari berbagai sumber jurnal penelitian.
Bagaimana Ketombe Menyebabkan Kebotakan?
Banyak yang tidak menyadari bahwa ketombe merupakan pintu gerbang menuju kerontokan rambut parah (alopesia). Ada beberapa mekanisme yang saling berkaitan:
Iritasi dan Luka Fisik: Ketombe menyebabkan rasa gatal yang hebat. Aktivitas menggaruk secara terus-menerus akan melukai kulit kepala dan melemahkan akar rambut.
Penyumbatan Folikel: Bintik putih ketombe dapat menutupi folikel rambut, menghambat pertumbuhan rambut baru, dan memicu kerontokan.
Efek Samping Zat Aktif: Penggunaan sampo antiketombe yang mengandung senyawa keras seperti zink pyrithione, belerang, atau selenium sulfida yang mengendap pada folikel justru berisiko merusak struktur rambut, membuatnya rapuh dan berubah warna.
Mengenal Bahaya Kebotakan (Alopesia)
Kebotakan atau alopesia adalah kondisi rontoknya rambut dalam jangka panjang yang dapat bersifat permanen. Pada wanita, pemicu utamanya adalah faktor usia, genetik, dan ketidakstabilan hormon. Sementara pada pria, hormon Androgen dehydrotestoteron (DHT) menjadi penyebab dominan.
Selain faktor internal, penggunaan bahan kimia keras seperti cat rambut yang mengandung senyawa anilin juga dilaporkan dapat memicu reaksi alergi yang berujung pada kebotakan.
Solusi Medis: Ketokonazol 2%
Bagi mereka yang mengalami masalah ketombe membandel, penggunaan antijamur spektrum luas seperti Ketokonazol 2% sering kali menjadi standar pengobatan. Tersedia dalam bentuk sampo, bahan ini bekerja dengan menghambat biosintesis ergosterol—komponen penting membran sel jamur. Dengan rusaknya membran sel jamur, pertumbuhan jamur penyebab ketombe dapat dihentikan secara efektif.
Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih peduli pada kebersihan kulit kepala (personal hygiene), terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di luar ruangan atau pengguna hijab, guna meminimalisir risiko penumpukan keringat dan sebum yang memicu masalah rambut lebih serius.
Referensi:
Arisandi, D. (2014). Hubungan Perawatan dengan Kesehatan Rambut.
Lukita Sari, D., dkk. (2018). Perilaku Pengguna Hijab dalam Mengatasi Masalah Rambut.
Putri, A., dkk. (2020). Relationship Of Personal Hygiene with Pityriasis Capitis.
Siar, S. C., & Korassa, Y. B. (2021). Inventarisasi Tanaman Tradisional Anti Ketombe.
Penulis: THD
Editor: INR







