INHIL, Faktacepat.id – Menjelang pertengahan Mei 2026, wajah para petani kelapa di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih diselimuti duka akibat penurunan harga kelapa yang drastis. Keluhan demi keluhan terus menggema, terutama dari masyarakat Dusun 3, Desa Pelanduk, Kecamatan Mandah, yang berharap ada solusi atas krisis ekonomi yang tengah mereka hadapi.
Harga kelapa bulat, yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga setempat, dilaporkan merosot ke titik terendah dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini memicu kesulitan luar biasa bagi para petani dalam menutupi biaya operasional panen serta kebutuhan pokok sehari-hari, sehingga menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.
Biaya Operasional Tidak Terkover akibat Harga Anjlok
Penurunan harga kelapa ini sangat memberatkan petani, mengingat tingginya biaya upah pemetik dan transportasi air yang menjadi tantangan tersendiri di wilayah perairan Mandah. Banyak petani terpaksa membiarkan kelapa di pohon menua tanpa dipanen karena hasil penjualannya sudah tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
Pak Sondi, salah satu petani di Dusun 3, menyampaikan kekecewaannya atas kondisi pasar saat ini. Ia mengaku bingung harus mencari ke mana lagi agar harga kelapa bisa kembali stabil dan mencukupi kebutuhan hidup.
“Kondisi kami sekarang benar-benar terjepit. Harga kelapa di tingkat petani turun drastis, sementara harga kebutuhan pokok di pasaran terus merangkak naik. Jujur, biaya untuk upah panen dan ongkos angkut saja seringkali tidak tertutupi, apalagi untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Kami sangat berharap pemerintah dan pihak terkait tidak mengabaikan nasib kami di Dusun 3 ini,” ungkap Pak Sondi kepada redaksi faktacepat.id, Jumat (15/5/2026).
Harapan untuk Intervensi Pemerintah
Hingga berita ini disusun, belum terlihat adanya peningkatan harga di level pengepul maupun perusahaan eksportir. Masyarakat Desa Pelanduk menantikan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir maupun Pemerintah Provinsi Riau, agar dapat melakukan intervensi pasar atau setidaknya menstabilkan harga kelapa di tingkat desa.
Kecamatan Mandah, yang dikenal sebagai salah satu lumbung kelapa di “Negeri Hamparan Kelapa Dunia,” kini hanya bisa menunggu kepastian agar roda perekonomian warga kembali berdenyut dan memberi harapan masa depan yang lebih baik.
Penulis: Sarfendi
Editor: INR







