Menagih Janji “Pasaman Bangkit”: Satu Tahun yang Masih Menjadi Janji Manis

Waktu adalah penguji paling jujur bagi seorang pemimpin. Ia tidak bisa disuap dengan angka-angka di atas kertas, pun tidak bisa dimanipulasi dengan retorika panggung yang memukau. Tanggal 30 Mei besok, genap satu tahun Welly Suhery dan Parulian menakhodai Kabupaten Pasaman. Namun, bagi masyarakat di akar rumput, terutama kami yang berada di wilayah Mapat Tunggul Selatan, satu tahun ini terasa berjalan sangat lambat, bahkan seolah merangkak di tengah ketidakpastian. Narasi “Pasaman Bangkit” yang begitu megah digelorakan saat kampanye, kini mulai dipertanyakan oleh public. Bangkit untuk siapa? Dan kapan janji-janji itu benar-benar mendarat di depan pintu rumah warga, bukan sekadar singgah di telinga saat musim kampanye lalu?

Program Unggulan yang Masih “Parkir”. Saat kampanye, 10 program unggulan Welly-Parulian adalah harapan besar yang menyalakan cahaya di mata masyarakat kecil. Namun, mari kita bicara jujur soal realita pahit di lapangan. Mari kita bedah satu per satu. Program Bajak Gratis, misalnya. Program ini seharusnya menjadi oase bagi petani kita yang tercekik mahalnya biaya produksi. Namun, hingga hari ini, petani di pelosok nagari masih harus merogoh kocek dalam-dalam demi mengolah lahan mereka. Jika armada alat mesin pertaniannya belum ada atau sistem operasionalnya belum berjalan, maka janji “Bajak Gratis” hanyalah retorika yang melukai harapan petani dan mengkhianati keringat mereka yang jatuh ke bumi Pasaman.

Begitu juga dengan janji 1000 Lapangan Kerja Setiap Tahun. Angka 1000 itu sangat besar dan ambisius, tapi pertanyaannya: Di mana lokomotifnya? Hingga saat ini, belum terlihat kebijakan yang secara konkret membuka ruang bagi anak muda Pasaman untuk berkarya di tanah kelahirannya sendiri. Alhasil, pemuda-pemuda kita tetap harus menatap jalan keluar merantau ke tanah orang dengan membawa sejuta kekecewaan karena lapangan kerja yang dijanjikan pemerintah tak kunjung menampakkan wujudnya. Apakah kita akan terus membiarkan aset terbaik daerah ini menjadi buruh di negeri orang hanya karena janji lapangan kerja di rumah sendiri masih menjadi “bayangan” yang tak bisa disentuh?

Digitalisasi yang Terputus dan Kesenjangan Pinggiran. Janji Internet Gratis di Daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) seharusnya menjadi prioritas utama di tahun pertama, mengingat dunia hari ini bergerak secara digital. Namun, kenyataannya kontras. Di daerah kami, Mapat Tunggul Selatan, jangankan menikmati internet gratis yang stabil, mendapatkan sinyal seluler yang konsisten saja masih seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Kita seolah hidup di dua dunia; kota yang sibuk dengan koneksi, dan pinggiran yang masih terisolasi dalam kegelapan informasi. Tanpa akses internet, janji modernisasi pendidikan dan peningkatan ekonomi digital desa hanyalah omong kosong yang tidak berpijak pada realita geografis Pasaman.

Masyarakat juga masih menagih realisasi penuh Pendidikan dan Seragam Sekolah Gratis. Di tengah himpitan ekonomi yang kian sulit, bantuan seragam sekolah adalah hal yang sangat dinanti. Jika seragam belum tersalurkan secara masif dan merata kepada seluruh anak sekolah yang membutuhkan, maka beban mental orang tua di setiap awal tahun ajaran baru akan tetap sama: berat dan mencekik.

Begitu pula dengan Program Rumah Layak Huni. Progresnya seolah tertutup oleh kabut tebal birokrasi dan prosedur yang berbelit. Sementara di pelosok-pelosok Pasaman, warga yang menghuni gubuk-gubuk reyot masih terus menengadah ke langit, menanti sentuhan nyata dari pemerintah yang dulu datang ke rumah mereka memohon dukungan. Kapan janji “Rumah Layak” itu berpindah dari dokumen perencanaan ke pondasi bangunan nyata di atas tanah masyarakat?

Jangan Sampai Menjadi “Fosil” Kampanye. Satu tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menunjukkan political will (kemauan politik). Satu tahun adalah durasi yang adekuat bagi seorang pemimpin untuk meletakkan fondasi nyata, bukan sekadar wacana. Jika di tahun pertama saja program-program “seksi” ini belum terlihat tanda-tanda eksekusinya secara masif, maka wajar jika masyarakat mulai didera rasa khawatir dan apatis.

Perlu diingat, 10 program unggulan itu adalah utang politik, dan dalam kacamata moral maupun konstitusi, utang harus dibayar lunas. Kami, mahasiswa Mapat Tunggul Selatan, tidak ingin melihat 10 program unggulan ini berakhir tragis menjadi fosil sejarah yang hanya dikenang melalui lembaran brosur kampanye yang sudah usang dan berdebu.

Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati, satu tahun sudah berlalu. Rakyat tidak butuh alasan teknis soal kendala anggaran atau kerumitan administrasi; rakyat butuh pembuktian bahwa pilihan mereka setahun lalu bukanlah sebuah kekeliruan besar. Hentikan narasi sukses yang hanya bagus dibaca di atas kertas atau di media sosial. Mulailah bekerja nyata, mulailah mengeksekusi janji di atas tanah Pasaman yang nyata, agar rakyat percaya bahwa “Pasaman Bangkit” bukanlah sekadar mimpi di siang bolong.

 

Penulis: Alfa Rezi

Editor : RFS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *