TEHERAN, Faktacepat.id – Militer Iran merilis sebuah video yang diklaim memperlihatkan peluncuran rudal jelajah menuju kapal induk milik Amerika Serikat, yakni USS Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah. Klaim tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan menjadi konflik terbuka antara kedua negara.
Komandan Angkatan Laut Iran, Shahram Irani, menyatakan bahwa setiap pergerakan kapal induk AS terus berada dalam pemantauan ketat. Ia menegaskan, begitu kapal memasuki jangkauan sistem pertahanan Iran, pihaknya langsung merespons dengan meluncurkan rudal jelajah yang disebut sebagai salah satu senjata andalan mereka.
Media pemerintah Iran melaporkan, serangan tersebut membuat USS Abraham Lincoln mengubah posisi untuk menghindari potensi ancaman. Kapal induk itu diketahui telah berada di perairan dekat wilayah Iran sejak beberapa hari terakhir.
Hingga kini, United States Central Command (CENTCOM) belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim tersebut. Di sisi lain, juru bicara militer Iran, Ibrahim Sfagari, menegaskan bahwa negaranya tidak membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat.
“Stabilitas kawasan dijaga oleh kekuatan militer kami. Tidak ada negosiasi,” tegasnya.
Seiring meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah. Sekitar 3.000 hingga 4.000 personel dari 82nd Airborne Division disebut telah dikirim untuk memperkuat kesiapsiagaan militer. Unit elit yang berbasis di Carolina Utara ini dikenal memiliki kemampuan respons cepat, termasuk operasi udara melalui penerjunan.
Dengan tambahan tersebut, jumlah personel militer AS di kawasan diperkirakan mencapai sekitar 50.000 orang, yang disiagakan untuk mengantisipasi potensi eskalasi dan serangan dari kelompok yang berafiliasi dengan Iran.
Dampak konflik juga mulai terasa di negara sekitar. Di wilayah utara Israel, tepatnya di Kota Kiryat Shmona, warga dilaporkan hidup dalam kondisi mencekam akibat serangan roket yang terjadi berulang kali. Sirene peringatan berbunyi hampir setiap beberapa menit, memaksa masyarakat berlindung di bunker.
Sementara itu di Irak, serangan udara yang dikaitkan dengan militer AS di Provinsi Al-Anbar dilaporkan menewaskan tujuh orang dan melukai belasan lainnya. Pemerintah Irak mengecam keras serangan tersebut, bahkan memberikan sinyal dukungan kepada kelompok paramiliter pro-Iran untuk melakukan balasan.
Penulis : YZA
Editor : INR







