Iran Izinkan Sejumlah Negara Termasuk China dan Rusia Melintas di Selat Hormuz

IRAN – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya tidak sepenuhnya menutup Selat Hormuz meskipun situasi di Timur Tengah tengah memanas.

Ia menjelaskan bahwa kapal dari sejumlah negara yang memiliki hubungan baik dengan Iran tetap diperbolehkan melintas dengan aman di jalur strategis tersebut. Negara-negara yang dimaksud antara lain India, Rusia, China, Pakistan, dan Irak.

Menurut Araghchi, kebijakan ini diambil karena banyak negara telah meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka yang hendak melewati Selat Hormuz.

“Sejumlah pemilik kapal maupun negara asalnya telah menghubungi kami untuk memastikan keselamatan pelayaran mereka. Untuk negara sahabat, atau dalam kondisi tertentu, angkatan bersenjata Iran menyediakan jalur aman,” ujarnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

Ia juga mengungkapkan bahwa komunikasi antara Iran dan berbagai negara terkait akses pelayaran terus berlangsung. Beberapa kapal bahkan disebut telah berhasil melintasi selat tersebut dalam beberapa hari terakhir.

“China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India termasuk di antaranya. Bahkan negara lain seperti Bangladesh juga menjalin komunikasi dengan kami. Koordinasi ini akan terus berlanjut, termasuk setelah konflik berakhir,” tambahnya.

Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan memberikan akses bagi kapal yang berasal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Teluk yang terlibat dalam konflik saat ini.

Araghchi menekankan bahwa kawasan tersebut sedang berada dalam kondisi perang, sehingga Iran tidak memiliki alasan untuk membuka jalur bagi pihak yang dianggap sebagai lawan.

“Wilayah ini adalah zona perang. Karena itu, kapal milik musuh dan sekutunya tidak diizinkan melintas. Namun, jalur tetap dibuka untuk negara lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Iran kini merasa semakin percaya diri dalam mengendalikan Selat Hormuz. Menurutnya, kemampuan tersebut telah terbangun selama hampir lima dekade.

Araghchi juga menyinggung keraguan sejumlah pihak saat Iran pertama kali mengumumkan penutupan sebagian jalur tersebut. Namun, ia menilai langkah itu akhirnya terbukti nyata.

“Mereka menganggap ini hanya ancaman. Tapi kami menunjukkan bahwa Iran mampu melakukannya. Berbagai upaya untuk menggagalkan kebijakan ini tidak berhasil,” katanya.

Sebelumnya, Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz pada Maret 2026 sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan tersebut berdampak besar pada pasar energi global.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan ini memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok internasional, serta menekan nilai mata uang di berbagai negara, termasuk rupiah.

Penutupan itu dilakukan oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) setelah meningkatnya konflik yang juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.

Dampaknya, sekitar 15 hingga 20 persen pasokan minyak dunia mengalami gangguan. Kondisi ini membuat kapal tanker menghadapi risiko tinggi saat melintasi wilayah tersebut, sehingga mendorong lonjakan harga minyak mentah global ke level yang diperkirakan sangat tinggi. Situasi ini juga berpotensi memicu inflasi serta mengguncang pasar saham internasional.

Di sisi lain, Amerika Serikat dikabarkan mulai menyiapkan kekuatan militer untuk membuka kembali jalur tersebut. Sementara itu, Iran memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap kapal mana pun yang tetap mencoba melintas di tengah ketegangan yang berlangsung. (India Today)

Penulis : YZA

Editor : INR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *