Konflik di Selat Hormuz dan Potensi Tekanan bagi APBN Indonesia

JAKARTA – Pemikiran Albert Camus tentang kecenderungan manusia menenangkan diri di tengah krisis terasa relevan dengan kondisi global saat ini. Dalam novelnya The Plague, Camus pernah menulis bahwa manusia kerap menganggap perang terlalu tidak masuk akal untuk berlangsung lama. Namun kenyataannya, seperti wabah, konflik sering bertahan jauh lebih lama dari perkiraan.

Situasi itu kembali terlihat dalam konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Pertempuran yang sudah berlangsung lebih dari sepekan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk potensi dampaknya bagi Indonesia.

Ancaman dari Selat Hormuz

Salah satu titik paling krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia. Ketegangan militer di wilayah ini membuat aktivitas pelayaran terganggu.

Gangguan tersebut bukan hanya disebabkan risiko serangan, tetapi juga meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. Sejumlah perusahaan asuransi maritim mulai menarik perlindungan bagi kapal yang melintas, sehingga banyak operator pelayaran memilih menunda perjalanan. Dampaknya, distribusi energi global ikut tersendat dan harga minyak mulai merangkak naik.

Bahkan pejabat energi dari Qatar memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga 150 dolar AS per barel. Meski demikian, sejumlah laporan dari International Energy Agency dan U.S. Energy Information Administration sebelumnya menunjukkan bahwa dunia sebenarnya sedang mengalami surplus pasokan minyak sekitar 4 juta barel per hari.

Pandangan yang lebih moderat disampaikan pakar energi Daniel Yergin. Dalam analisanya di Financial Times, ia menilai krisis ini memang serius, namun belum sebanding dengan guncangan energi pada era 1970-an. Hal ini karena sumber energi kini lebih beragam, produksi minyak dari Amerika meningkat, cadangan strategis tersedia, dan jalur distribusi alternatif masih ada.

Namun, risiko terbesar akan muncul jika konflik berlangsung lama dan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.

Potensi Perang Berkepanjangan

Lamanya konflik sering kali bukan karena semua pihak menginginkan perang, melainkan karena tidak ada pihak yang mau mundur lebih dulu. Dalam teori permainan atau game theory, kondisi ini dikenal sebagai strategi brinkmanship.

Konsep tersebut dijelaskan oleh ekonom peraih Nobel Thomas Schelling dalam bukunya Arms and Influence. Ia menggambarkan strategi mendorong situasi hingga mendekati bahaya untuk memaksa lawan mengalah lebih dulu. Jika pendekatan seperti ini terus terjadi, konflik bisa berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.

Dampak bagi Ekonomi Indonesia

Bagi Indonesia, dampak konflik global tersebut dapat muncul melalui tiga jalur utama.

Pertama, jalur perdagangan dan energi.
Sebagian besar pasokan minyak dan LNG dari kawasan Teluk mengalir ke Asia. Jika distribusi terganggu, harga energi global akan naik. Kenaikan biaya energi ini bisa mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.

Walau demikian, dampak terhadap Indonesia kemungkinan tidak langsung memicu resesi karena ekspor Indonesia hanya sekitar 22 persen dari produk domestik bruto. Faktor paling penting adalah menjaga ketersediaan pasokan energi di dalam negeri.

Kedua, jalur keuangan.
Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi global. Kondisi ini membuat bank sentral di banyak negara sulit menurunkan suku bunga. Bank Indonesia menghadapi dilema serupa, karena penurunan suku bunga terlalu cepat dapat menekan nilai tukar rupiah. Dampaknya bisa dirasakan oleh sektor riil, termasuk investasi yang tertahan serta meningkatnya beban bunga utang.

Ketiga, dampak terhadap anggaran negara.
Kenaikan harga minyak memang bisa meningkatkan penerimaan negara, tetapi di sisi lain juga memperbesar beban subsidi energi. Kementerian Keuangan Republik Indonesia memperkirakan setiap kenaikan satu dolar harga minyak dapat menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.

Jika harga minyak bertahan jauh di atas asumsi APBN, defisit anggaran berpotensi melebar cukup signifikan.

Pilihan Kebijakan Pemerintah

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah pada dasarnya memiliki tiga opsi utama: meningkatkan penerimaan negara, menambah utang, atau mengurangi belanja.

Menaikkan pajak bukan pilihan mudah karena berisiko menghambat aktivitas ekonomi. Alternatif lain adalah memperbaiki sistem administrasi perpajakan, meski langkah ini memerlukan waktu.

Pilihan kedua adalah memperbesar defisit anggaran melalui penambahan utang. Namun langkah ini memiliki risiko terhadap kepercayaan pasar dan stabilitas keuangan.

Pilihan terakhir adalah menekan pengeluaran negara, meskipun langkah ini sering kali berdampak pada pengurangan belanja pembangunan seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Karena itu, pengelolaan fiskal yang hati-hati menjadi kunci agar tekanan eksternal akibat konflik global tidak berujung pada penyempitan ruang anggaran yang dapat menghambat pembangunan jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *