Faktacepat.id – Jakarta, Insiden penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, akhirnya terungkap melalui penjelasan dari rekan-rekannya.
Peristiwa itu bermula pada Kamis (12/3) ketika Andrie menjalani sejumlah kegiatan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sekitar pukul 15.30 WIB, ia menghadiri pertemuan di kantor Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Setelah itu, Andrie melanjutkan agenda dengan melakukan rekaman podcast di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 74.
Kegiatan podcast tersebut selesai sekitar pukul 20.00 WIB. Namun Andrie masih berada di kantor YLBHI hingga sekitar pukul 23.00 WIB sebelum akhirnya meninggalkan lokasi untuk mengisi bahan bakar di SPBU kawasan Cikini.
Saat melintas di Jalan Talang sekitar pukul 23.37 WIB, tiba-tiba dua orang tak dikenal datang dari arah berlawanan. Tanpa banyak kata, keduanya langsung menyiramkan cairan keras ke tubuh Andrie.
Serangan tersebut mengenai sisi kanan tubuh korban, terutama bagian mata, wajah, dada, dan tangan. Cairan yang diduga air keras itu menimbulkan luka serius hingga pakaian yang dikenakan Andrie dilaporkan ikut meleleh akibat zat tersebut.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengungkapkan adanya hal mencurigakan setelah kejadian. Ia menyebut salah seorang warga yang berada di lokasi langsung menyinggung nama KontraS dan LBH saat mendengar teriakan korban.
Menurut Dimas, hal tersebut menimbulkan dugaan bahwa pelaku atau pihak yang terlibat kemungkinan sudah mengetahui identitas serta aktivitas Andrie sebelumnya.
Usai kejadian, Andrie segera dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan tiba sekitar pukul 23.48 WIB. Saat ini ia mendapatkan perawatan intensif dari tim dokter yang terdiri dari berbagai spesialis, termasuk spesialis mata, THT, saraf, tulang, thoraks, penyakit dalam, serta kulit.
Tim medis mendiagnosis korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya. Andrie juga direncanakan menjalani tindakan operasi mata berupa pencangkokan membran amnion dengan menggunakan anestesi lokal.
Pihak KontraS menilai insiden tersebut sebagai bentuk upaya intimidasi terhadap aktivis hak asasi manusia. Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk segera menyelidiki kasus ini secara menyeluruh, termasuk mengungkap pelaku dan motif di balik serangan tersebut.
Penulis : YZA
Editor : INR







