Tiga Musim Tanam Terhenti, HIMAGRI UNES dan Warga IV Koto Mudiek Desak Perbaikan Irigasi

 

Tiga Musim Tanam Terhenti, HIMAGRI UNES dan Warga IV Koto Mudiek Desak Perbaikan Irigasi

PESISIR SELATAN, Faktacepat.id – Keluhan memilukan datang dari para petani di Nagari IV Koto Mudiek. Sudah tiga musim tanam berlalu tanpa hasil akibat rusaknya hulu irigasi yang menjadi jantung kehidupan pertanian mereka. Menanggapi kondisi kritis ini, Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIMAGRI) Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti (UNES) Padang turun ke lapangan dalam aksi nyata bertajuk “Mahasiswa Berdampak”.

Sejak banjir besar yang melanda pada tahun 2024 yang dikenal sebagai bagian dari “Bencana Sumatera” infrastruktur irigasi di wilayah ini hancur total. Hingga awal tahun 2026 ini, belum ada tanda-tanda perbaikan dari pihak berwenang.

Wali Nagari IV Koto Mudiek mengungkapkan bahwa para petani kini berada di titik nadir. Tanpa air yang mengalir ke sawah, mereka tidak bisa menanam padi, yang berarti hilangnya mata pencaharian utama untuk menyambung hidup keluarga.

Ketua Umum HIMAGRI FAPERTA UNES Padang, Yolanda Argumantara, yang hadir langsung di tengah masyarakat, menyatakan keprihatinan mendalam atas lambatnya respons pemerintah atau pihak terkait.

“Kami merasa terpanggil. Sebagai mahasiswa pertanian, kami melihat langsung bagaimana jeritan petani yang kehilangan harapan. Pesan mereka jelas: ‘Pulihkan irigasi kami’. Ini bukan sekadar permintaan bantuan, ini adalah tuntutan untuk bertahan hidup karena perut tidak bisa menunggu lama,” ujar Yolanda dengan tegas.

Para tokoh masyarakat setempat juga menyuarakan hal yang sama. Mereka mengaku tidak memiliki kemampuan finansial maupun teknis untuk memperbaiki hulu irigasi secara swadaya karena skala kerusakan yang sangat masif.

Melalui gerakan Mahasiswa Berdampak, HIMAGRI UNES Padang mendesak para pengambil kebijakan dan pihak berwenang untuk segera:

Melakukan peninjauan lokasi di hulu irigasi Nagari IV Koto Mudiek.

Mengalokasikan anggaran darurat untuk perbaikan infrastruktur pertanian yang rusak akibat bencana 2024.

Memberikan solusi jangka pendek agar petani bisa kembali turun ke sawah pada musim tanam berikutnya.

“Kami hanya bisa menyuarakan ini melalui media dengan harapan terbaca oleh mereka yang memiliki kuasa. Jangan biarkan masyarakat menunggu tanpa kepastian,” tambah Yolanda.

Aksi ini diakhiri dengan komitmen bersama antara mahasiswa dan warga untuk terus mengawal isu ini hingga air kembali mengalir di sawah-sawah Nagari IV Koto Mudiek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *