JAKARTA — Pemerintah berencana memperkenalkan sistem pelabelan gizi terbaru bertajuk Nutri-Level yang akan ditempatkan di bagian depan kemasan makanan dan minuman. Melalui label ini, konsumen cukup melihat indikator warna dan huruf untuk menilai tingkat kesehatan suatu produk, apakah layak dikonsumsi atau perlu dibatasi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut kebijakan ini dirancang untuk mempermudah masyarakat memahami kualitas gizi tanpa harus membaca tabel komposisi yang sering dianggap rumit.
Dalam penerapannya, Nutri-Level membagi produk ke dalam empat kategori berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Kategori A ditandai warna hijau tua dengan kandungan paling rendah, sedangkan kategori D berwarna merah menunjukkan produk yang sebaiknya dibatasi konsumsinya.
Meski terlihat praktis, muncul pertanyaan mengenai efektivitas sistem ini dalam mengubah pola konsumsi masyarakat. Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menilai bahwa secara konsep, label tersebut dapat menjadi alat bantu yang cukup efektif.
Ia menjelaskan, keberadaan label ini tidak hanya membantu konsumen dalam memilih produk yang lebih sehat, tetapi juga mendorong produsen untuk menekan kadar gula, garam, dan lemak agar tidak masuk kategori tinggi risiko.
Namun demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada edukasi yang memadai. Tanpa pemahaman yang baik, masyarakat berpotensi salah menafsirkan label yang ada.
Johanes mengingatkan, kampanye edukasi berskala nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengurangi asupan gula, garam, dan lemak guna menekan risiko berbagai penyakit.
Tanpa edukasi yang masif, label ini dikhawatirkan hanya menjadi informasi tambahan yang diabaikan, terutama bagi masyarakat yang belum terbiasa memperhatikan kandungan gizi pada kemasan.
Ia juga menyoroti kemungkinan kesalahan persepsi, seperti anggapan bahwa produk dengan label hijau dapat dikonsumsi tanpa batas. Meski risiko tersebut ada, menurutnya jumlah produk dalam kategori ini relatif terbatas dan belum tentu diminati luas.
Sebaliknya, makanan dengan rasa manis atau gurih yang lebih disukai masyarakat justru banyak masuk dalam kategori kuning atau merah, sehingga tetap berpotensi dikonsumsi lebih sering.
Karena itu, ia menegaskan bahwa label warna seharusnya hanya menjadi panduan awal. Masyarakat tetap perlu membaca informasi nilai gizi secara lengkap untuk memahami kandungan produk secara menyeluruh.
Selain itu, akurasi informasi pada kemasan menjadi hal penting yang harus dijaga oleh otoritas terkait. Regulasi yang ketat diperlukan agar klaim produk tidak menyesatkan konsumen.
Pada akhirnya, Nutri-Level dinilai bukan solusi tunggal, melainkan langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat. Perubahan gaya hidup, mulai dari pemilihan makanan hingga aktivitas fisik, tetap menjadi faktor utama.
Kolaborasi berbagai pihak, termasuk organisasi kesehatan, juga dinilai penting untuk memperkuat edukasi publik. Dengan demikian, label pada kemasan tidak hanya menjadi simbol visual, tetapi benar-benar dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat dalam menentukan pilihan konsumsi.
Penulis : KMD
Editor : INR







