
Mapat Tunggul Selatan: Puluhan Tahun “Terasing” di Tanah Sendiri, Pemerintah Abai Struktural
Oleh: Alfa Rezi
(Mantan Ketua Umum IKAMPM 2024/2026 /Kabid PPD Komunitas Aktivis Muda Indonesia PD Padang )
Sudah puluhan tahun Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, namun bagi warga Kecamatan Mapat Tunggul Selatan di Kabupaten Pasaman, kemerdekaan seolah-olah hanya berhenti di lembaran teks sejarah. Di balik narasi megah tentang Indonesia Maju, terdapat realita pahit di mana akses jalan utama urat nadi kehidupan masih berupa tanah berbatu yang berubah menjadi “jalur maut” setiap kali hujan menyapa.
Kritik tajam yang dilontarkan oleh Alfa Rezi, mantan Ketua Umum IKAMPM, bukan sekadar letupan emosi, melainkan cerminan dari kegagalan struktural. Ketika anggaran daerah sering kali tersedot untuk proyek-proyek estetika di pusat kota, daerah pelosok seperti Mapat Tunggul Selatan justru dibiarkan terisolasi. Ini bukan lagi soal keterbatasan teknis, melainkan soal skala prioritas dan kemauan politik (political will).
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang memiskinkan rakyat.
- Ekonomi Tercekik: Biaya logistik yang melambung tinggi membuat harga jual komoditas unggulan seperti karet dan gambir jatuh di tangan tengkulak.
- Pendidikan Terhambat: Siswa dan guru harus bertaruh nyawa di jalanan licin, menjadikan pendidikan tiket emas keluar dari kemiskinan sebagai barang mewah yang sulit diraih.
- Kesehatan Terancam: Akses menuju layanan kesehatan yang buruk bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati dalam situasi darurat.
Sangat ironis jika pemerintah hanya terlihat “akrab” dengan masyarakat saat menjelang Pemilu. Janji-janji manis yang ditebar saat kampanye sering kali menguap begitu saja setelah kursi kekuasaan diraih. Masyarakat Mapat Tunggul Selatan tidak membutuhkan kunjungan seremonial atau retorika tentang keterbatasan APBD. Mereka membutuhkan aksi nyata.
Membiarkan jalanan rusak selama puluhan tahun adalah bentuk pengabaian terhadap hak dasar warga negara. Pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya berorientasi pada pusat pertumbuhan yang sudah mapan, tetapi harus menyentuh pinggiran demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Perbaikan jalan di Mapat Tunggul Selatan adalah harga mati. Pemerintah Kabupaten Pasaman maupun Pemerintah Provinsi Sumatra Barat tidak boleh lagi menutup mata. Mengaspal jalan bukan sekadar urusan teknis pengerasan tanah, melainkan upaya memanusiakan warga yang telah lama merasa “terasing” di tanah kelahirannya sendiri. Jangan tunggu sampai amarah publik memuncak atau jatuh korban lebih banyak lagi di jalur berlumpur tersebut.






