AS Longgarkan Kebijakan terhadap Minyak Rusia, Sekutu Barat Sampaikan Kritik

Faktacepat.id – Jakarta, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah darurat dengan memberikan kelonggaran terbatas terhadap sanksi minyak Rusia. Kebijakan ini diambil di tengah melonjaknya harga energi dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Mengutip laporan Reuters, Sabtu (14/3/2026), langkah sementara tersebut dimaksudkan untuk membantu menstabilkan pasokan minyak global. Namun kebijakan itu juga memicu kritik dari sejumlah sekutu Barat yang khawatir Rusia akan memperoleh tambahan pemasukan untuk mendukung operasi militernya di Ukraina.

Pelonggaran sanksi dilakukan melalui pengecualian terbatas yang memungkinkan minyak Rusia yang telah berada di laut tetap dikirim kepada pembeli tanpa terkena sanksi sekunder dari AS.

Kebijakan ini berlaku hingga 11 April 2026 dan mencakup pengiriman minyak yang sudah dimuat sejak pertengahan Maret tahun ini.

Harga Minyak Melonjak

Di tengah terganggunya rantai pasokan global, harga minyak dunia terus bertahan di level tinggi. Minyak mentah acuan Brent dilaporkan telah menembus angka di atas 100 dolar AS per barel pada Jumat (13/3/2026).

Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik sekaligus kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi energi global.

Respons terhadap Gangguan Pasokan

Kebijakan pelonggaran sanksi ini muncul setelah konflik yang melibatkan Iran memicu gangguan besar pada jalur distribusi energi strategis dunia. Salah satu yang terdampak adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari.

Penutupan jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kekurangan pasokan minyak global.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah AS mencoba membuka tambahan pasokan dengan mengizinkan minyak Rusia yang sudah berada di laut untuk tetap mencapai kilang tujuan.

Menurut laporan MarketWatch, volume minyak yang termasuk dalam pengecualian tersebut diperkirakan berkisar 100 hingga 130 juta barel. Meski demikian, analis menilai jumlah tersebut hanya setara dengan sedikit lebih dari satu hari konsumsi minyak dunia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara dan tidak dimaksudkan untuk memberikan keuntungan tambahan bagi Rusia.

Menurutnya, pajak atas minyak tersebut telah dipungut pada saat produksi sehingga Rusia tidak memperoleh pendapatan baru dari pengiriman tersebut.

Ancaman Harga Minyak Lebih Tinggi

Walaupun pelonggaran sanksi diharapkan dapat meredakan tekanan pasar, harga minyak global masih menunjukkan tren tinggi.

Harga minyak mentah Brent sempat mencapai sekitar 103 dolar AS per barel, sementara minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) juga mendekati 100 dolar AS per barel.

Lonjakan harga tersebut dipicu gangguan distribusi energi di Timur Tengah serta serangan terhadap kapal tanker di wilayah konflik.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi jika ketegangan geopolitik terus berlanjut. Bahkan seorang pejabat Iran menyebut harga minyak dapat mencapai 200 dolar AS per barel apabila stabilitas kawasan semakin memburuk.

Bersiaplah menghadapi harga minyak 200 dolar per barel karena stabilitas regional telah terganggu,” kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari, seperti dikutip Reuters.

Sebagai respons terhadap krisis tersebut, Badan Energi Internasional (IEA) juga mempertimbangkan pelepasan hingga 400 juta barel minyak dari cadangan darurat global, termasuk lebih dari 170 juta barel dari cadangan strategis Amerika Serikat.

Kritik dari Sekutu Barat

Keputusan Washington untuk melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia menuai kritik dari sejumlah negara sekutu, terutama di Eropa dan Ukraina.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menilai langkah tersebut sebagai kebijakan yang tidak tepat karena berpotensi memberikan pemasukan hingga 10 miliar dolar AS bagi Rusia.

Para pemimpin Eropa, termasuk dari Jerman dan Perancis, juga menyampaikan kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut dapat melemahkan tekanan internasional terhadap Moskwa di tengah konflik yang masih berlangsung.

Menurut mereka, sanksi ekonomi tetap menjadi instrumen penting untuk menekan agresi Rusia.

Di sisi lain, pemerintah Rusia menyambut positif kebijakan tersebut dan menilai langkah itu dapat membantu menjaga stabilitas pasar energi global.

Potensi Tambahan Pendapatan Rusia

Sejumlah analis memperkirakan bahwa kelonggaran sanksi ini berpotensi memberikan dampak finansial bagi Rusia, terutama di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Laporan The Washington Post menyebut Moskwa bisa memperoleh tambahan pemasukan hingga sekitar 150 juta dolar AS per hari jika harga minyak tetap tinggi.

Sebelumnya, berbagai sanksi Barat telah menekan pendapatan energi Rusia secara signifikan. Diskon besar terhadap minyak Rusia serta pembatasan ekspor menyebabkan pendapatan negara tersebut menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Faktor Politik Domestik AS

Pengamat juga menilai keputusan melonggarkan sanksi tidak lepas dari pertimbangan politik dalam negeri Amerika Serikat.

Lonjakan harga bahan bakar menjadi isu sensitif menjelang pemilihan paruh waktu, sehingga pemerintah berupaya menekan dampak krisis energi terhadap konsumen domestik.

Harga bensin di AS dilaporkan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, mencerminkan dampak langsung gejolak energi global terhadap masyarakat.

Pemerintah AS berharap kebijakan sementara ini dapat membantu menenangkan pasar energi, meskipun tidak menyelesaikan persoalan struktural yang lebih luas dalam sistem energi global.

Ketidakpastian Pasar Energi

Secara keseluruhan, pelonggaran sebagian sanksi terhadap minyak Rusia menggambarkan kompleksnya dinamika geopolitik dan energi dunia saat ini.

Gangguan distribusi energi di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta kepentingan politik internasional dan domestik membuat kebijakan energi semakin strategis dan sensitif.

Para analis menilai stabilitas pasar minyak global dalam jangka panjang akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di kawasan Teluk, khususnya terkait pembukaan kembali jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz.

Dengan kondisi geopolitik yang masih tidak menentu, pasar energi dunia diperkirakan tetap menghadapi volatilitas tinggi dalam waktu dekat.

Sumber : https://money.kompas.com/read/2026/03/14/215510226/minyak-rusia-diberi-kelonggaran-sekutu-barat-kritik-kebijakan-as?page=1

Penulis : YZA

Editor : INR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *