
Aksi Sejuta Pohon di Bukittinggi: Yayasan Rash & IMM Kecam Kelangkaan Bibit di BPDAS serta Kegagalan DLH Kelola Sampah
BUKITTINGGI, 15 Februari 2026 – Rash kembali membuktikan konsistensinya dalam mengawal kedaulatan lingkungan di Sumatera Barat. Sebagai kelanjutan dari program “Sejuta Pohon” yang diresmikan bersama Gubernur Sumbar, Mahyeldi, pada Januari lalu, Yayasan Rash menggelar aksi penanaman kolaboratif bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Bukittinggi, Minggu (15/02).
Acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi ini diawali dengan seremoni pembukaan dan dilanjutkan dengan penanaman secara simbolis. Namun, di balik aksi hijau tersebut, muncul kritik tajam terkait kondisi birokrasi dan tata kelola lingkungan di daerah.
Dalam sambutanya, ketua RASH Febriyandi menegaskan bahwa penanaman ini adalah respon terhadap deindustrialisasi dini yang melanda Indonesia. “Kita gagal membangun industri yang menyejahterakan, sehingga alam terus diperas tanpa ampun. RASH hadir untuk memastikan rakyat kembali berdaulat atas
tanah dan airnya melalui aksi nyata di bidang ekologi, pendidikan, dan sosial,” tegasnya.
Senada dengan visi tersebut, Ketua IMM Bukittinggi Darwansyah menyatakan kesiapan penuh untuk bergerak bersama Yayasan Rash. Namun, ia menyayangkan kendala teknis yang memalukan di lapangan.

”Kami kecewa dengan BPDAS Agam Kuantan. Sangat ironis, di saat mahasiswa ingin menghijaukan kota, bibit di persemaian lokal justru kosong. Kami terpaksa mendatangkan bibit dari Kota Padang. Ini bukti nyata betapa lambannya birokrasi mendukung gerakan rakyat,” ujar Ketua IMM Bukittinggi dengan nada kecewa.
Tak hanya soal bibit, kolaborasi aktivis ini juga menyoroti krisis sampah yang kian parah di Bukittinggi. Mereka menilai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bukittinggi gagal total dalam menciptakan sistem pengelolaan limbah yang mumpuni bagi sebuah kota wisata. Krisis sampah ini dianggap sebagai cerminan kegagalan tata kelola yang berdampak langsung pada kesejahteraan sosial warga.
RASH Didirikan oleh para aktivis pergerakan yang berfokus pada perjuangan kesejahteraan rakyat melalui tiga pilar: Ekologi (Lingkungan), Pendidikan, dan Sosial. Yayasan Rash percaya bahwa bangsa yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur hanya bisa dicapai dengan menjaga alam dan mencerdaskan kehidupan bangsanya.


