IPPI PW Sumbar Menolak Diam: Mengawal Darah Pengamen yang Tercecer di Balik Pebertiban Oleh Satpol PP kota Padang

Oleh: Wahyu Kurniawan Fungsionaris Ikatan Putra Putri Indonesia

Kematian seorang pengamen di Padang setelah diamankan Satpol PP bukan sekadar tragedi biasa!! Negara Menertibkan, atau Menghabisi?

Kematian seorang pengamen di Padang setelah diamankan Satpol PP bukan sekadar tragedi biasa. Di mata publik, ini telah menjadi stigma baru: penertiban identik dengan kekerasan.

Sebagai bagian dari masyarakat yang melihat langsung dinamika di lapangan, kami menilai ada jarak yang semakin lebar antara fungsi ideal negara dan realitas praktik di jalanan.

Satpol PP, secara hukum, memiliki tugas yang jelas: menegakkan Peraturan Daerah, menjaga ketertiban umum, dan menciptakan ketenteraman. Namun, yang terlihat di lapangan sering kali justru pendekatan yang jauh dari prinsip persuasif, humanis, dan proporsional.

Pertanyaannya sederhana:
kalau penertiban berujung pada hilangnya nyawa, apakah itu masih bisa disebut penertiban?

Di ruang publik, narasi yang berkembang bukan lagi soal aturan, tapi soal ketakutan. Masyarakat kecil pengamen, pedagang kaki lima, gelandangan mulai dilihat bukan sebagai warga yang harus dilindungi, tetapi sebagai objek yang harus disingkirkan.

Karena dalam perspektif hukum dan hak asasi manusia, negara tidak pernah diberi mandat untuk melukai, apalagi menghilangkan nyawa, dalam proses penegakan ketertiban.

Hak untuk hidup dan diperlakukan secara manusiawi adalah hak dasar yang tidak bisa dikurangi dalam kondisi apa pun. Ini bukan sekadar teori hukum, tapi fondasi moral negara.

Sebagai fungsionaris IPPI, saya melihat ini bukan hanya persoalan oknum, tetapi juga persoalan cara pandang. Ketika kelompok lemah terus-menerus menjadi sasaran, sementara yang kuat jarang tersentuh, maka publik akan membentuk stigma:

Kasus ini harus diusut secara transparan dan tuntas. Bukan hanya untuk mencari siapa yang bersalah, tetapi untuk memulihkan kepercayaan publik yang mulai retak.

Karena pada akhirnya, pertanyaan besar yang muncul bukan hanya tentang satu kejadian, melainkan tentang arah negara itu sendiri:

Apakah negara hadir untuk melindungi seluruh warganya, atau hanya untuk mengatur siapa yang dianggap layak berada di ruang publik?

Jika yang terus ditertibkan adalah mereka yang lemah, sementara keadilan tidak berjalan seimbang, maka yang kita lihat hari ini bukanlah ketertiban.

Melainkan ketidakadilan yang disusun agar tampak rapi.

Kami IPPI PW Sumbar siap mengawal tuntas dugaan kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Satpol PP kota Padang sehingga menghilangkan nyawa saudara kita!!!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *